1 Syawal 1443 H, bertepatan dengan 3 Mei 2022 dosen Prodi PAI memberikan khutbah idul fitri di salah satu masjid di Kecamatan Bulotalangi dengan mengangkat Judul khutbah Melestarikan Spirit Idul Fitri. Khutbahnya menegaskan bahwa pada intinya bahwa ramadhan akan menjadi saksi nyata kita kepada Allah bagaimana kita dalam melayaninya jika dia adalah seperti tamu, dan akan menjadi penyesalan jika selama dia bertamu ke rumah, kita tidak pernah melayaninya. Semoga kecemasan dan kesedihan yang kita rasakan sekarang ini benar-benar menjadi tanda bahwa kita memang telah mengisi ramadhan ini dengan amalan ibadah dengan semaksimal mungkin hanya mengharap ridha Allah swt.
Ada pertanyaan menggelitik yang diajukan khatib dengan mengutip pendapat Prof. Dr. Nasaruddin Umar yakni: Apa sebetulnya yang kita harapkan dari idul fitri ini? Menurutnya, ukuran untuk mengukur apakah ibadah ramadhan kita itu mabrur atau tidak mabrur, itu sangat ditentukan seusai kita menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan. Kemakbulan ibadah ditentukan pada saat pelaksanaan ibadah itu sendiri. Apakah sholat kita diterima tergantung syarat rukun dipenuhi atau tidak. Apakah puasa kita diterima tergantung syarat rukun dipenuhi atau tidak. Demikian pula ibadah-ibadah lainnya. Tapi tidak semua ibadah yang makbul itu mabrur. Kemabruraran ibadah itu ditentukan seusai kita melakukan ibadah itu sendiri. Kita memang sudah berpuasa, tapi kita diancam sebuah hadis: kam min shoimin (betapa banyak orang berpuasa), laisa lahu min shiyamihi (dia tidak mendapat apa-apa dari puasanya itu), illal ju’u wal ‘athosy (kecuali rasa lapar dan haus). Kenapa? Karena puasanya tidak membuahkan hasil.

Khatib pun mengutip pendapat Prof. Nasaruddin Umar, bahwa ukuran untuk mengukur ibadah kita mabrur atau tidak, lihat sikap kita terhadap pembantu. Masih ringan tangankah kita, masih pelitkah kita, masih suka marahkah kita dengan pembantu? Masih sukakah kita kasar terhadap sopir? Masih pelitkah kita terhadapnya? Bagaimana sikap kita terhadap tetangga? Masihkah seperti kemarin? Selama tidak ada perubahan yang dirasakan oleh orang lain terhadap perilaku kita, maka kita tidak termasuk orang yang mendapatkan kemabruran ibadah ramadhan. Tapi, mudah-mudahan demikian adanya: pembantu, tukang kebun, sopir, tetangga, teman kantor, bawahan, staff, semua merasakan perubahan pada diri kita semenjak selesai ramadhan. Itu tanda-tanda mabrur.
Najamuddin mengajak jamaah untuk membuktikan bahwa puasa kita bukan hanya makbul tapi sekaligus juga mabrur. Sama juga dengan haji mabrur, kemabruran haji kita bukan ditentukan di sana, tapi kemabrurannya ditentukan di sini. Kemaqbulan ibadah-ibadah ramadhan kita diukur pada waktu bulan suci ramadhan. Kemabruran ibadah-ibadah ramadhan kita diukur antara ramadhan dengan ramadhan yang akan datang. Kalau kita berhasil menciptakan perubahan dalam karakter perilaku atau akhlakul karimah semakin baik, itu pertanda mabrur ibadah-ibadah ramadhan kita.

Khatib pun mengutip pendapat Dr. Shamsi Ali yang mengungkapkan keberkahan ramadhan adalah bulan pelatihan karakter kemanusiaan kita. Bulan di mana setiap Muslim seharusnya melakukan apa yang biasa disebut “character shaping” (pembentukan karakter), baik karakter fisikal bahkan yang terpenting adalah karakter non fisikal. Karakter fisikal itu nampak dalam prilaku nyata manusia. Ramah, lembut, berkata baik dan sopan, dan seterusnya. Sementara karakter non fisikal lebih kepada bentuk mentalitas manusia (mental state) yang sesungguhnya sangat menentukan warna karakter fisikalnya. Karakter non fisikal itu akan terpatri dalam sebuah istilah atau terminologi keagamaan yang disebut “Al-ihsan”. Sebuah karakter batin (non fisikal) yang menggambarkan keindahan (hasan, husna, wa ahsan). Bahwa manusia yang memiliki sifat ihsan akan hidup dengan kehidupan yang indah, nyaman, dan aman.
Al-ihsan ini menurutnya terekspresi dalam dua dimensi kehidupan manusia, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Keduanya saling terkait dan saling menentukan. Dimensi vertikal ihsan akan membentuk dimensi horizontalnya, dan dengan sendirinya dalam pandangan Islam karakter baik (ihsan) pada aspek fisikal kehidupan seseorang tidak lepas dari karakter batinnya (jiwa atau hatinya). Dimensi vertikal Ihsan diekspresikan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW: “hendaklah engkau menyembah Allah seolah engkau melihatnya. Dan jika engkau tidak mencapai tingkatan yang demikian, yakinlah jika Allah melihat engkau”.
Najamuddin menegaskan bahwa fungsi puasa pada dimensi ini (seolah melihat Allah atau yakin jika Allah melihat kita) sangat menentukan. Sebab puasa adalah amalan ibadah yang sangat pribadi (personal) antara seorang hamba dan Tuhannya. Dengan sendirinya ibadah ini melatih seorang hamba untuk selalu merasakan kehadiran Allah dalam dirinya. Kehadiran dimensi vertikal “ihsan” dalam diri seseorang ini menjadikannya mampu membangun dimensi horizontalnya dalam kehidupannya. Dimensi horizontal ihsan inilah yang terpatri dalam prilaku fisikal atau karakter seseorang. Ketika seseorang itu berbuat maka perbuatannya tidak terlepas dari kesadaran akan kehadiran Allah. Sehingga perbuatannya dalam segala bentuknya terikat oleh nilai-nilai samawi (dimensi vertikal ihsan) itu. Ikatan nilai-nilai samawi ini menjadikannya akan selalu dalam karakternya tidak saja benar, tapi juga indah, nyaman dan memberikan rasa aman. Semua itu tersimpulkan di agama ini dalam sebuah ekspresi: “makarim Al-Akhlaq”. Keindahan karakter yang sejatinya menjadi esensi religiusitas seseorang. Bahkan makarimul akhlaq ini seolah menjadi kesimpulan dari misi Dakwah Rasulullah SAW.