
12/10/2026,Jakarta. Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sultan Amai Gorontalo, Rinaldi Datunsolang, M.Pd., melaksanakan kegiatan visiting lecturer di Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA). Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran gagasan akademik sekaligus penguatan kerja sama antarlembaga dalam pengembangan pendidikan Islam.Kedatangan Rinaldi Datunsolang disambut oleh Ketua Program Studi PAI UHAMKA, Dr. Shobah Shofariyani, M.Pd. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana akademik yang mendorong dialog, pertukaran perspektif, dan pengembangan pemikiran kritis mengenai arah pendidikan agama Islam di tengah tantangan masyarakat kontemporer.Dalam pemaparannya, Rinaldi mengangkat pentingnya memahami teologi pembebasan Al-Ma’un yang digagas K.H. Ahmad Dahlan dan mengintegrasikannya dengan gagasan pendidikan pembebasan Paulo Freire. Menurutnya, pendidikan agama Islam tidak seharusnya berhenti pada penguasaan pengetahuan keagamaan dan praktik ritual, tetapi perlu membentuk kesadaran kritis serta mendorong tindakan nyata dalam merespons ketidakadilan sosial.
Ia menegaskan bahwa pembelajaran PAI harus mampu menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan realitas kehidupan masyarakat. Pemahaman terhadap ajaran agama hendaknya melahirkan kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan, keberanian memperjuangkan keadilan, serta tanggung jawab untuk menghadirkan perubahan sosial yang lebih baik.“Belajar PAI bukan untuk membuat kita merasa lebih suci di dalam masjid, melainkan membuat kita gelisah ketika melihat ketidakadilan di luar masjid,” ungkap Rinaldi dalam penyampaiannya.Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendidikan agama Islam perlu menjadi sarana pembebasan manusia dari ketertindasan, baik dalam cara berpikir maupun dalam kehidupan sosial. Spirit pendidikan pembebasan Paulo Freire dapat menjadi landasan untuk membangun nalar kritis peserta didik, sementara pemikiran K.H. Ahmad Dahlan melalui teologi Al-Ma’un memberikan dorongan agar pemahaman keagamaan diwujudkan dalam aksi sosial yang konkret.“PAI harus menjadi teologi pembebasan. Jadilah guru PAI yang ketika masuk ke kelas membawa spirit Freire: membebaskan nalar yang tertindas. Bawalah spirit Buya Hamka: memerdekakan jiwa dari penghambaan sesama makhluk. Dan gerakkan itu semua dengan spirit Al-Ma’un: mengubah ayat menjadi aksi nyata!” tegasnya.Pesan tersebut menjadi ajakan kepada mahasiswa calon guru PAI agar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan pemberdayaan masyarakat. Guru PAI diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang membebaskan, memanusiakan peserta didik, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih adil.
Dalam kesempatan itu, Rinaldi juga menyampaikan tantangan kepada mahasiswa PAI UHAMKA untuk mengambil peran dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Ia mengajak calon pendidik untuk berani mengembangkan pemikiran kritis, memperkuat kepedulian sosial, dan menerjemahkan ajaran Islam ke dalam tindakan nyata.“Pada akhir kegiatan visiting lecturer, kedua program studi melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sebagai langkah awal untuk memperkuat kerja sama akademik. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya membuka peluang pertukaran dosen dan pengembangan kegiatan pembelajaran, tetapi juga mendorong penelitian kolaboratif serta menghasilkan artikel ilmiah bersama yang berpeluang dipublikasikan pada jurnal bereputasi internasional, termasuk jurnal terindeks Scopus.Kegiatan ini menjadi langkah strategis bagi Prodi PAI UIN Sultan Amai Gorontalo dalam memperluas jejaring akademik dan meningkatkan produktivitas penelitian. Melalui pertukaran dosen, diskusi ilmiah, dan kolaborasi publikasi, kedua program studi diharapkan dapat saling memperkuat kapasitas akademik sekaligus berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan Islam yang kritis, humanis, dan berorientasi pada keadilan sosial.