
Gorontalo, 26 Juni 2025 – Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Sultan Amai Gorontalo sukses menyelenggarakan Kuliah Tamu Edupreneurship yang menghadirkan Sugiyanto Surotinojo, BSc.,MBA. sebagai dosen tamu. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya jurusan untuk membekali mahasiswa dengan jiwa kewirausahaan dan kemampuan bersaing di era global.Kuliah tamu ini mengangkat tema inspiratif: “Membangun Jiwa Edupreneur: Strategi Inovatif Mewujudkan Mahasiswa Mandiri, Kreatif, dan Berdaya Saing Global.” Tema ini sangat relevan dengan tuntutan zaman, di mana lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga jiwa inovasi dan kemandirian untuk menciptakan peluang.Acara yang dilaksanakan pada hari ini, 26 Juni 2025, ini disambut antusias oleh para mahasiswa dan civitas akademika Jurusan PAI. Kehadiran seorang akademisi sekaligus praktisi seperti Sugiyanto Surotinojo BSc.,MBA. menjadi magnet tersendiri bagi peserta yang ingin menggali lebih dalam tentang konsep edupreneurship.

Dalam paparannya, Sugiyanto Surotinojo BSc.,MBA. menekankan pentingnya mengintegrasikan semangat kewirausahaan dalam dunia pendidikan. Ia menjelaskan bahwa edupreneurship bukan hanya tentang menciptakan bisnis di bidang pendidikan, melainkan juga tentang bagaimana individu dapat berpikir kreatif, inovatif, dan mandiri dalam menghadapi tantangan di berbagai sektor kehidupan.”Mahasiswa saat ini harus memiliki pola pikir edupreneur,” ujar Sugiyanto. “Mereka tidak hanya belajar untuk menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Kemandirian, kreativitas, dan daya saing global adalah kunci untuk sukses di masa depan.” “Sugianto Surotinojo adalah seorang profesional yang memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang teknik dan bisnis. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di bidang Civil Engineering dan S2 di bidang Master Business Administration di Colorado State University, Amerika Serikat. Dalam karirnya, Sugianto menjabat sebagai Direktur Utama PT Cipta Sarana Lestari sejak 2004 hingga sekarang, dan sebelumnya juga menjabat sebagai Direktur PT Jayakarya Permai Utama dari 2004 hingga 2018. Selain itu, ia juga aktif dalam kegiatan politik dan sosial, dengan menjabat sebagai Bendahara DPD Partai Demokrat Provinsi Gorontalo dari 2006 hingga 2014, dan saat ini menjabat sebagai Bendahara BTM Al Munawarah.”
Materi yang disampaikan meliputi strategi-strategi inovatif dalam mengembangkan ide-ide pendidikan yang memiliki nilai ekonomi, serta bagaimana membangun jaringan dan memanfaatkan teknologi untuk mewujudkan impian edupreneurial. Diskusi interaktif juga mewarnai sesi ini, di mana mahasiswa aktif bertanya dan berbagi pandangan.Rendi Sambara membuka sesi diskusi dengan pertanyaan mengenai strategi membangun bisnis dari nol. Ia mengungkapkan kegelisahannya sebagai mahasiswa yang ingin terjun ke dunia usaha, namun belum mengetahui langkah awal yang tepat. Menanggapi hal ini, narasumber menekankan pentingnya memulai dari perencanaan yang matang atau visibility usaha, mengenali potensi diri dan pasar, serta berani mengambil risiko. “Bisnis tidak selalu dimulai dengan modal besar, tetapi dengan ide yang kuat, keberanian untuk mencoba, dan ketekunan,” ujar narasumber.
Abul Fidan Tahalu kemudian menyoroti persoalan beratnya beban administrasi yang dihadapi oleh tenaga pendidik, sehingga menyulitkan pengembangan jiwa kewirausahaan. Narasumber menjawab bahwa kunci utama adalah manajemen waktu dan mindset. “Menjadi pendidik bukan berarti tidak bisa berwirausaha. Justru, guru bisa menjadi teladan dalam membangun kemandirian ekonomi dan kreativitas di luar kelas. Yang terpenting adalah membagi waktu dan menetapkan prioritas dengan bijak,” jelasnya.
Sementara itu, Arfan Danial mengangkat isu pengelolaan keuangan desa yang sering menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pemuda desa yang ingin terlibat dalam pembangunan ekonomi lokal. Narasumber menyarankan agar masyarakat, khususnya generasi muda, mulai mengenal dasar-dasar literasi keuangan, transparansi anggaran, dan pentingnya partisipasi aktif dalam musyawarah desa. “Pemuda harus paham tata kelola keuangan desa agar bisa menjadi agen perubahan, bukan hanya penonton,” tutupnya.Kuliah tamu ini merupakan salah satu inisiatif Jurusan PAI dalam memperkaya kurikulum dan memberikan pengalaman belajar yang relevan bagi mahasiswa. Diharapkan, kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan menghadirkan lebih banyak praktisi serta ahli di bidangnya, karena Prodi PAI memiliki tiga profil lulusan yaitu: menjadi tenaga pendidik, asisten peneliti, dan edupreneur.
Pada akhir acara, Jurusan Pendidikan Agama Islam memberikan sertifikat apresiasi kepada Sugiyanto Surotinojo BSc.,MBA. sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dan ilmunya yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Sertifikat tersebut ditandatangani oleh Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, Dr. Najamuddin Petta Solong, M.Ag., dan Dekan, Dr. Said Subhan Posangi, M.Pd.I.

Dr. Najamuddin Petta Solong, M.Ag., dalam sambutannya, menyampaikan terima kasih kepada Dr. Sugiyanto Surotinojo atas kesediaannya berbagi ilmu. “Kami berharap, apa yang disampaikan hari ini dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa kami untuk menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan mampu bersaing di kancah global,” tuturnya.
Senada dengan itu, Anugrah Lestari, M.Pd., selaku dosen Prodi PAI, juga mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. “Kuliah tamu seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan mahasiswa dan memotivasi mereka untuk tidak hanya bergantung pada jalur karier tradisional, tetapi juga berani berinovasi dan menciptakan peluang sendiri,” ungkapnya.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo semakin meneguhkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki jiwa edupreneurship yang kuat, siap menghadapi tantangan zaman, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Diharapkan, semangat edupreneurship yang ditanamkan melalui kuliah tamu ini akan terus tumbuh dan berkembang di kalangan mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo, sehingga mereka dapat menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan dampak positif di berbagai bidang.