ESENSI  SPRITUAL PERJALANAN IBADAH HAJI

Oleh : Rahmin T. Husain

 

Labbaika Allahumma Labbaik Labbaika

Laa Syariika Laka Labbaik Innal Hamda

Wanni’mata Laka wal Mulk Laa syariika Laka

 

Selamat Jalan Tamu-tamu Allah

Semoga dapat meraih  predikat Haji Mabrur

Semoga kelak dapat menebar aroma kemabruran…Aamiin.

 

Hari ini   Senin  tanggal   6 Agustus tahun  2018, Jamaah Calon  Haji Serambi Madinah  mulai   diberangkatkan menuju  embarkasi Makassar dan  selanjutnya akan bertolak menuju  bandara King Abdul Aziz di Jedah.   Jamaah Calon  Haji Serambi Madinah yang akan  menunaikan rukun Islam yang kelima  pada musim haji tahun  ini, menurut data  dari  Kanwil  Kementrian  Agama   provinsi  Gorontalo  berjumlah  980 orang,  dan     dengan   petugas  KLOTER yang  terdiri  dari  12  orang.   Harapannya, semoga tamu-tamu Allah tersebut dapat meraih  predikat “ Haji Mabrur  ”   dan   kelak kembali   dapat  menebar  kemabruran di  tengah  kehidupan  masyarakat  Serambi Madinah dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Haji   adalah   salah   satu  ibadah   dalam   Islam   yang   tidak   semua  orang ditakdirkan memiliki kemampuan untuk   menunaikannya. Maka bersyukur adalah hal terbaik   dan  terindah  bagi  mereka yang  memperoleh  kesempatan untuk melaksanakannya. Bersyukur menjalani dan memaknai esensi setiap episode perjalanan spiritual ibadahnya.

Komaruddin  Hidayat   dalam  buku   KEHAMPAAN SPRITUAL   MASYRAKAT MODERN “Respon  dan  Transformasi  Nilai-nilai Islam  menuju  Masyarakat Madani”, mengurai   bahwa  secara   esensial   ibadah   haji   adalah   melakukan   napak  tilas pengalaman tiga  orang  hamba Allah dalam pergumulan mencapai tingkat  tertinggi tauhid.  Mereka  adalah Ibrahim, Hajar dan Ismail. Merekalah yang berjasa meletakkan dasar-dasar  dari  apa   yang   disebut  sebagai  Paham  Ketuhanan  yang   Maha   Esa (tauhid). Karena  itu dimensi ibadah haji yang  pertama adalah dimensi vertical  yang menekankan hubungan antara manusia dengan Allah, sang pencipta. Lebih  lanjut dalam tulisan itu,  Komaruddin Hidayat  mengulas makna spiritual perjalanan ibadah haji yang dapat ditransformasi dalam kehidupan social masyarakat.

–       Ihram

Saat  mengenakan pakaian ihram,  kita mungkin  akan  tersentak dan terbayang bahwa suatu saat kita  akan  mengenakan kain  kafan.  Pada saat itulah  sebenarnya kita tengah diingatkan bahwa kita akan  melepaskan pakaian dunia  ini satu persatu dan    akan  memasuki alam  akhirat.  Kita dingatkana bahwa sebagai manusia tidak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan dihadapan Allah Swt.  kecuali  yang melekat dalam diri kita yaitu iman dan amal shaleh.

Sesuatu yang  melekat  dalam  diri    suatu saat  kita  akan   lepaskan  karena memang bukan  milik kita. Misalnya pakaian, pakaian itu hanya  melekat sementara, maka  ia bukan  pemilikan  sejati kita. Karena  itulah  dalam Islam pakaian ihram  tidak boleh dijahit, juga harus dibuat  dari bahan yang sederhana dengan warna  putih-putih.

 

Ini   suatu  simbolisme  bahwa  kita   sedang  menampilkan  diri  secara  telanjang dihadapan  Allah  Swt.  Kita  berhadapan  dengan Allah  seperti  apa   adanya. Sebab pakaian adalah salah satu bagian dari  kehidupan yang  membagi manusia menjadi tinggi,  rendah, baik dilihat  dari bahannya, warnanaya maupun jahitannya. Bisa saja bahan pakaian kita sama, tetapi karena dijahit ditempat dan  penjahit yang  berbeda, maka  itu juga akan  membuat kita jadi berbeda. Itulah sebabnya pakaian ihram  tidak boleh  dijahit.  Kesadaran yang  ingin ditanamkan melalui  simbolisme pakaian ihram adalah kehidupan kita  di  dunia  ini dihiasai oleh  bermacam-macam pakaian yang dalam  kenyataannya   lebih  berfungsi  sebagai  topeng. Yang  dimaksud  “pakaian” disini juga  termasuk jabatan, kedudukan, kekuasaan, harta  dan  perhiasan. Karena hanya  topeng maka  ia bisa menutupi hakikat  dan  nilai kesejatian diri kita  sebagai manusia.

Dengan  ihram  kita dididik untuk melepaskan diri dari klaim-klaim superioritas, ketidaksamaan  derajat,  dan   sebagainya.  Kita  berhadapan  dengan  Allah  dalam keadaan polos  dan  dengan kesadaran  bahwa dunia  ini memang tidak  lebih  dari sekedar  panggung sandiwara  yang  ditaburi   cahaya  gemerlapan,  tetapi  sebentar kemudian cerita  akan  berakhir  dan layar harus ditutup.   Ibadah haji bukanlah sekedar peristiwa rutin  tahunan yang  melibatkan ratusan ribu bahkan jutaan manusia yang berkumpul   ditempat   yang    sama   pada  saat   yang    bersamaan.   ibadah   haji menyadarkan kepada kita tentang apa  sebenarnya misi dan  eksistensi kehidupan di dunia ini.

–       Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah adalah merupakan bagian dari ibadah haji. Ada cerita  bahwa dulu Adam, setelah diturunkan dari surga ke dunia  dalam keadaan terpisah dengan istrinya, Hawa.  Dan mereka bertemu kembali  di Bukit Arafah. Karena  itu ada  legenda bahwa  Bukit   Arafah   merupakan  bukit   jodoh.   Artinya   siapa  saja  yang   belum mendapatkan jodoh, kalau  dia  naik  ke bukit  itu dan  berdoa, konon  dia  akan  dapat jodoh. Tetapi itu bukan  ajaran agama. Itu lebih merupakan legenda.

Hal yang  lebih  penting untuk  dimaklumi  berkenaan dengan wukuf  di Arafah adalah bahwa di Arafah  itu Nabi  pernah menyampaikan sebuah pidato yang  kelak disebut sebagai “  pidato perpisahan” atau  khutbatul wada’. Nabi  pernah bersabda bahwa “Al-hajjul ’Arafah” (Haji ialah  Arafah).  Maksudnya, orang  yang  tidak  wukuf di Arafah  maka  hajinya  tidak  sah. Wukuf di Arafah  begitu  sangat penting karena ada sesuatu yang harus dihayati berkenaan dengan pidato perpisahan Nabi tersebut.

Nabi memulai pidatonya dengan pernyataan “ wahai  sekalian umat  manusia, tahukah  kamu  dalam  bulan  apa  kamu  ini,  di hari  apa  kamu  ini,  dan  di negeri  apa kamu ini?

Hadirin ketika  itu menjawab “ kita semuanya ada  dalam hari yang  suci, bulan  yang suci dan tanah yang suci”. Mendengar jawaban itu Nabi melanjutkan pidatonya “ oleh karena itu, ingatlah bahwa hidupmu, hartamu dan  kehormatanmu itu suci, seperti sucinya  harimu   ini,  bulamu  ini,  di  negeri   yang   suci  ini  sampai  kamu   datang menghadap Tuhan”. Sejenak Nabi terdiam, tetapi kemudian berkata lagi “Sekarang dengarkanlah aku, dengarkanlah aku, maka  kamu  akan  hidup tenang; ingatlah kamu tidak boleh  menindas orang, tidak boleh  berbuat zhalim  kepada orang  lain, dan tidak boleh mengambil harta  orang  lain”.

Pidato  Nabi  itulah  yang  kemudian  dikenal  sebagai  pidato  tentang hak-hak asasi  manusia.  Sungguh  Nabi  telah   meletakkan  dasar-dasar  kemanusiaan  jauh sebelum orang-orang menyuarakan tentang Hak Asasi manusia.

 

–       Thawaf

Selain   berihram,  dalam  ibadah  haji,  kita   juga   melakukan  thawaf.  Yaitu menglilingi  ka’bah sebanayak tujuh  kali. Dalam  al-Qur’an ditegaskan bahwa ka’bah adalah rumah  suci yang  pertama didirikan  untuk  umat  manusia (QS.3:96).  Secara formalistik  thawaf  adalah  tindakan  mengelilingi  Ka’bah.  Namun   secara esensial thawaf sebenarnya adalah menirukan tindakan seluruh jagad.  Dalam  ilmu tentang alam   raya,  kita  diajarkan  bahwa  bulan   beredar mengelilingi  bumi,  bumi  beredar mengelilingi matahari dan  matahri mengelilingi pusat dari  gugusan bintang yang disebut galaksi Bima  Sakti  (Malky Way).  Tindakan berkeliling  itulah  yang  disebut thawaf.`

Jadi thawaf tidak  hanya  dilakukan   oleh  manusia pada saat berhaji.  Justru ketika  berthawaf itu manusia hanya  menirukan alam  raya  yang  berkeliling  kepada suatu pusat. Dengan  berthawaf manusia  tengah menegaskan diri sebagai  bagian dari seluruh alam  raya yang tunduk  dan patuh kepada Sang Pencipta, Yaitu Allah Swt.

–  Sa’i

Dalam praktek haji kita juga melakukan sa’i, yaitu berlari-lari kecil antara shafa dan   marwah.  Praktek  ibadah  yang   terkesan  seperti  olah   raga   ini  sesungguhya memiliki nilai yang  sangat tinggi.  Sai ‘i sesungguhnya adalah symbol atau  lambang kecintaan seorang ibu kepada anaknya.

Dikisahkan bahwa Ibrahim meninggalkan istrinya Hajar, dan anaknya, Ismail di suatu lembah yang  tandus, seraya mengatakan bahwa itu adalah perintah Tuhan. Alasan yang  dikemukakan suaminya itulah  yang  membuat Hajar  bersikap tenang. Sebab kalau  itu perintah Allah maka  ia yakin Allah tidak akan  menyia-nyiakan ia dan anaknya.

Tetapi  ketika  bekal  yang  dibawanya sedikit  demi  sedikit  berkurang dan  akhirnya habis, Hajar tak urung dilanda  kebingunagan. Ia pun naik ke atas bukit untuk mencari air,  tetapi disana dia  tidak  menemukan yang  dicarainya. Maka  dengan perasaan paniknya  yang  kian menjadi-jadi, Hajar berlari-lari dari Shafa  Ke Marwah, ternyata di sana pun  tidak  ada  air. Dia pun  kembali  ke anaknya, dan  alangkah tercengang dia ketika  melihat air memancar dari bawah padang pasir. Secara spontan dia seakan berbicara kepada air itu. “Hai air, kumpullah di sini, kumpullah di sini”. Dia berkata begitu  karena khawatir  air yang  sudah terkumpul  banyak  itu akan  ditelan  kembali oleh   pasir  dan   habis.  Air  itulah   yang   kemudian  dikenal   sebagai  air  zam-zam. Perkataan “ zam-zam” sendiri berasal dari bahasa Ibarani yang artinya  “kumpullah!!, kumpullah!!

Ketika melaksanakan Sa’i, sebenarnya kita sedang menghayati kecintaan seorang ibu  kepada  anaknya. Tanpa   penghayatan  yang  dalam  seperti  itu,  maka tindakan beralari-lari kecil  dari  Shafa  ke  Marwah  yang  cukup  melelahkan itu tidak akan menimbulkan efek keimanan apapun, kecuali hanya  berhenti pada formalitas.

Lebih jauh lagi kalau  kita mau  merekonstruksi peristiwa sa’i   yang bersejarah itu. Kita juga  akan  sampai pada kesimpulan tentang pertumbuhan Makkah  menjadi kota  peradaban yang  terkenal dan  dibanggakan oleh  umat  Islam. Kita sama tahu bahwa di daerah gurun  pasir yang  tandus dan  gersang, air menjadi komoditi  yang paling  berharga. Sehingga ketika  peristiwa yang  dialami  Hajar  dan  anaknya, Ismail, menghasilkan  keajaiban  berupa  memancarnya  air  dari  padang pasir,  masih  ada kajaiabn lain yang muncul  sesudahnya, yaitu tumbuhnya Makkah  menjadi kota  yang ramai.

 

Selamat menunaikan ibadah haji… semoga ketika  kembali  ke tanah air tidak hanya  membawa oleh-oleh air zam-zam, tetapi lebih dari itu “OLEH-OLEH HAJI MABRUR”.

Aamiin Ya Rabbal Alamiin…

Penulis   :  Ibu   Rumah   Tangga  yang   berdomisili   di  Kab.

Gorontalo