Pernahkah kalian membayangkan sebuah panggung, bukan untuk konser musik pop, melainkan untuk menggemakan makna-makna terdalam dari Kitab Suci Al-Qur’an? Itulah yang terjadi di Aula Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tanggal 6 dan 7 Oktober 2023. Bukan hanya sebuah acara, melainkan sebuah simfoni spiritual yang diprakarsai oleh tangan-tangan terampil dan hati-hati yang tulus: mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas PAI 3D, bersama seluruh panitia pelaksana dari Jurusan PAI.

Lomba Syarhil Qur’an dalam Pentas Seni Al-Qur’an (LPSQ) 2023 ini sejatinya adalah bukti nyata bahwa semangat Al-Qur’an tidak pernah padam, bahkan justru berkobar-kobar di jiwa para pemuda. Puluhan tim Syarhil dari berbagai program studi di lingkungan IAIN Sultan Amai Gorontalo turut serta, memperebutkan gelar terbaik. Lupakan sejenak gambaran lomba yang kaku, di LPSQ ini, Syarhil Qur’an adalah perpaduan seni orasi, pemahaman mendalam, dan penghayatan akan nilai-nilai Ilahi. Setiap kelompok menampilkan pencerahan, menggugah nalar dan jiwa dengan penjelasan ayat-ayat yang relevan dengan kehidupan masa kini.

“Dua minggu terakhir ini, Aula FITK sudah seperti rumah kedua kami, bahkan beberapa kali kami menginap untuk memastikan semuanya sempurna,” celetuk Farhan (nama fiktif), salah satu panitia inti dari PAI 3D, dengan tawa renyah, matanya memancarkan kebanggaan. “Ada kalanya listrik padam saat seting panggung atau sound system rewel, tapi semangat kami tidak pernah padam.” Cerita di balik layar adalah esensi dari keunikan LPSQ tahun ini. Dari diskusi sengit tentang dekorasi panggung yang menampilkan ornamen Islami, rapat larut malam menyusun jadwal, hingga berjibaku dengan urusan teknis sound system, semua digarap serius oleh para mahasiswa PAI 3D yang notabene masih berjuang dengan tugas kuliah mereka sendiri.

Mereka bukan sekadar menjalankan program, mereka menghidupkan Al-Qur’an melalui dedikasi. Jurusan PAI memberikan dukungan penuh, memfasilitasi dan membimbing para mahasiswa ini untuk menjadi ‘arsitek’ dari sebuah acara yang bukan hanya sukses secara teknis, tetapi juga sukses dalam menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an. Ini adalah manifestasi nyata dari pendidikan karakter di luar kelas.

Suasana Aula FITK selalu dipenuhi antusiasme. Setiap penampilan tim syarhil disambut tepuk tangan meriah dan decak kagum, terutama saat para peserta berhasil mengulas makna ayat dengan retorika yang kuat dan pesan yang menyentuh. Salah satu kriteria penilaian utama adalah kesesuaian materi dengan tema yang diberikan, serta kemampuan tim dalam menyajikan penampilan yang koheren dan inspiratif.

Di tengah deretan peserta yang siap unjuk gigi, tampak sosok Sri Wahyuni S Baid, seorang peserta didik yang namanya kelak akan tertulis dalam lembaran penghargaan. Dengan raut wajah penuh konsentrasi, ia bersiap mempersembahkan performa syarhil terbaiknya, hasil dari latihan gigih dan pemahaman mendalam. “Rasanya campur aduk antara gugup dan bahagia,” ungkap Sri Wahyuni usai tampil. “LPSQ ini bukan hanya ajang lomba, tapi panggung bagi kami untuk berdakwah dan menguji seberapa jauh kami memahami pesan Al-Qur’an.”