Gorontalo, 13 Juli 2025 – Prodi PAI FITK Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo sukses menyelenggarakan the 2nd Annual International Conference on Islamic Education (AICONIE) dengan tema “Islamic Education in a Globalized Digital Era: Upholding Tradition, Embracing Innovation” (Pendidikan Islam di Era Digital Global: Menjunjung Tradisi, Merangkul Inovasi) pada hari Minggu, 13 Juli 2025. Konferensi ini diselenggarakan di aula Fakultas Syariah IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Acara penting ini menghadirkan serangkaian pembicara terkemuka yang berfokus pada relevansi dan adaptasi pendidikan Islam di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi yang pesat. Konferensi ini dibuka secara resmi dengan sambutan dari Dr. Zohra Yasin, M.Pd., selaku Wakil Dekan III FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo. Geischa Cicilia Mokoagow sebagai pembawa acara, kalam Ilahi oleh Jerlin Abdullah, pengantar panitia oleh Rendy Sambara, sambutan oleh Ketua Jurusan PAI Dr. Najamuddin Petta Solong, M.Ag., dan moderat Aditya Batalipu mahasiswa Prodi PBA FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Salah satu puncak acara adalah tampilnya narasumber utama Sheikh Yousif Abdelmannan M. Godat, MA, dari Universitas al-Khourtum Sudan yang menyampaikan papernya berjudul “Islamic Education in a Globalized Digital Era: Upholding Traditions, Embracing Innovation,” menyatakan bahwa era digital membawa peluang dan tantangan signifikan bagi pendidikan Islam. Beliau menggarisbawahi pentingnya menjaga tradisi yang berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah, sambil secara strategis memanfaatkan alat dan peluang yang disediakan oleh teknologi untuk melestarikan dan mengembangkan warisan Islam bagi generasi mendatang.

Sheikh Yousif Abdelmannan M. Godat juga memaparkan pemanfaatan teknologi dapat memperdalam pemahaman teks-teks dasar Islam melalui akses yang belum pernah ada sebelumnya ke manuskrip dan komentar klasik secara daring misalnya Maktabah Syamilah online. Selain itu, beliau menyoroti peran internet sebagai alat dakwah yang ampuh untuk menyebarkan konten Islam yang otentik dan berkualitas tinggi secara global, serta pentingnya membekali mahasiswa dengan keterampilan berpikir kritis dan kompas moral untuk menavigasi lanskap digital secara bertanggung jawab. Aspek penting lainnya yang dibahas adalah integrasi teknologi dalam praktik pedagogis, seperti penggunaan e-learning platforms, kelas virtual, dan pengalaman belajar yang digamifikasi untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan personal. Pembicara juga menyoroti potensi kecerdasan buatan (AI) dalam mempersonalisasi jalur pembelajaran dan membantu penelitian.
Selain itu, Sheikh Yousif Abdelmannan M. Godat menyampaikan papernya berjudul “Language and Communication in Islamic Education: Bridging Tradition and the Digital,” yang dalam paparannya, menjelaskan bagaimana bahasa, khususnya bahasa Arab, telah menjadi “urat nadi” pendidikan Islam selama berabad-abad, menjadi kunci untuk membuka warisan intelektual dan spiritual Islam yang luas. Beliau membahas peran tradisional bahasa dalam pendidikan Islam, termasuk penguasaan bahasa Arab Klasik, transmisi lisan, retorika, dan multibahasa. Beliau juga menguraikan tantangan dan peluang era digital, seperti potensi penyebaran informasi yang tidak terverifikasi atau terlalu disederhanakan, serta akses yang belum pernah ada sebelumnya ke sumber daya digital dan alat pembelajaran interaktif.
Konferensi ini juga menampilkan pembicara lain yang berasal dari beragam latar belakang keilmuan, yaitu: Dr. Fachri Yasin, M.Pd., Kaprodi Magister Teknologi Pendidikan Universitas Islam Asy-Syafi’iyah, Dr. Zahra Yasin, M.Pd., Wakil Dekan III FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo, dan Dr. Najamuddin Petta Bolong, M.Ag., Kaprodi PAI FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo. Tujuan utama konferensi ini menurut Kaprodi PAI adalah untuk menemukan keseimbangan antara tradisi dan inovasi, memastikan bahwa pendidikan Islam tetap relevan dan efektif di dunia yang terus berkembang. “Saya berharap diskusi dalam konferensi ini dapat menginspirasi dan membimbing generasi mendatang dalam dunia digital yang terglobalisasi” ungkapnya.