Gorontalo, 26 Juni 2025 – Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) terus menunjukkan komitmennya dalam mentransformasi lanskap pendidikan di Indonesia. Sebuah refleksi dan diseminasi hasil Asistensi Mengajar, yang dirangkaikan dengan yudisium, baru saja sukses diselenggarakan selama dua hari penuh pada tanggal 25 dan 26 Juni 2025 di Aula FITK Kampus 2. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari tujuan MBKM untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dan memiliki kompetensi global.

Dr. Yurni Rahman, M.Pd., seorang pakar pendidikan, menjelaskan bahwa MBKM adalah kebijakan pendidikan yang mengedepankan kebebasan belajar, serta mendorong pengalaman praktis di luar lingkungan kelas tradisional. Hal ini selaras dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis dan menuntut adaptabilitas tinggi.Namun, implementasi MBKM tidaklah tanpa tantangan. Salah satu isu krusial yang dihadapi adalah kesenjangan fasilitas infrastruktur, terutama di daerah terpencil yang masih minim akses terhadap komputer, internet, dan laboratorium.

Akses digital yang tidak merata di seluruh Indonesia juga menjadi hambatan serius bagi pembelajaran daring dan pemanfaatan sumber belajar digital. Selain itu, kurangnya ruang kolaborasi dan tata ruang kelas yang cenderung tradisional juga menjadi kendala dalam mendukung pembelajaran aktif.Dari sisi sumber daya manusia, kesiapan guru untuk mengadopsi metode pembelajaran baru masih menjadi perhatian, lantaran pelatihan yang tersedia seringkali dirasa belum memadai. Manajemen sekolah juga dituntut untuk memiliki keterampilan baru dalam mengelola perubahan kurikulum dan sistem, sementara dukungan orang tua yang belum sepenuhnya memahami konsep MBKM juga memerlukan edukasi berkelanjutan.

Adaptasi kurikulum lama agar sesuai dengan pendekatan MBKM memerlukan waktu dan keahlian khusus. Sistem penilaian tradisional juga perlu disesuaikan agar lebih komprehensif dan beragam, serta perlu adanya keseimbangan antara materi akademis dan pengalaman praktis dalam alokasi waktu dan sumber daya.Tantangan budaya dan pola pikir juga turut mewarnai perjalanan implementasi MBKM. Tradisi pendidikan di Indonesia yang cenderung berorientasi pada hafalan menghadapi resistensi terhadap perubahan menuju pembelajaran aktif. Struktur sosial yang kaku, di mana guru masih sering dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, menghambat kolaborasi. Resistensi terhadap perubahan dari berbagai pihak yang merasa nyaman dengan sistem lama, serta kurangnya budaya inovasi di lingkungan pendidikan, juga menjadi faktor penghambat.

Aspek regulasi juga menghadirkan kompleksitas tersendiri. Banyak kebijakan pendidikan yang tumpang tindih, membuat sekolah kesulitan memahami dan menerapkan semua regulasi yang ada. Birokrasi yang panjang dan rumit juga menghambat inovasi dan adaptasi cepat. Selain itu, menyeimbangkan kebutuhan standarisasi dengan fleksibilitas MBKM, termasuk dalam hal pengawasan dan akreditasi, juga menjadi tantangan besar.

Ketua Panitia acara, Dr. Damhuri, M.Ag., menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan program ini. “Kegiatan refleksi dan diseminasi ini bukan hanya ajang berbagi hasil, melainkan juga momentum penting untuk mengevaluasi dan merumuskan langkah perbaikan. Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan kapasitas guru dan administrator, serta mendorong infrastruktur yang adaptif,” ujarnya. “Meskipun tantangannya beragam, kami yakin MBKM akan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan stakholder, serta siap bersaing di kancah global.”

Salah satu peserta Asistensi Mengajar, Rendy Simbara, mengungkapkan pengalamannya, “Program Asistensi Mengajar MBKM memberikan saya kesempatan luar biasa untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah ke dalam praktik nyata. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan di luar teori, terutama dalam berinteraksi langsung dengan peserta didik dan memahami dinamika di lingkungan sekolah.”

Ketua Jurusan PAI, Dr. Najamuddin Petta Solong, M.Ag., menambahkan, “Implementasi MBKM di sekolah/madrasah adalah keniscayaan dalam menghadapi era disrupsi. Kami akan terus berupaya mencari mitra strategis dan membangun ekosistem kolaborasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Tentunya dengan semangat yang sama, untuk menciptakan lulusan yang tidak hanya berakhlak mulia, tetapi juga adaptif dan inovatif.”

Dengan berbagai langkah menuju solusi yang meliputi pengembangan kapasitas, pembangunan infrastruktur adaptif, dan kemitraan strategis, diharapkan implementasi MBKM di sekolah dan madrasah dapat berjalan lebih optimal, demi mewujudkan generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing global.