Kuliah dhuha Pondok Pesantren Azharul Khairaat pimpinan Husni Idrus Lc, M.S.I bersama Prodi PAI pagi tadi (8 Agustus 2023) dilaksanakan di Posko Riyadhusshalihin Bongoime Kab. Bone Bolango dirangkaikan dengan pengresmian Kantor Perwakilan PT Albis Nusa Wisata Bone Bolango sebagai travel penyelenggara perjalanan umrah dan haji khusus. Kuliah dhuha ini diawali dengan sholat dhuha sebelum dialog santai tapi serius tentang pemberdayaan ummat yang menghadirkan pembicara di antaranya: Hamzah Isa (Lamahu), Husni Idrus (Ponpes Azharul Khairaat), Yuriko Kamaru (DPRD Prov. Gorontalo), Dr. Zulzain Ilahude, M.P. (akademisi UNG), Tgk Ismail Datu (MPTT), Ruslan Demanto, S.Th.I., (Darul Khairaat), Fauziyah (PT Albis Nusa Wisata), Abd. Manan Podungge, S.Ag., (Lamahu), Thalib Manhia, (Muasasah Takwinul Ummah) dan Sunaryo Usman (Penyuluh Agama), dan Najamuddin Petta Solong (Prodi PAI IAIN Sultan Amai Gorontalo)
Beberapa cuplikan ide yang bisa disharing dari masing-masing pembicara yaitu:
Husni Idrus: “pemberdayaan ummat dari konsep iqra ditunjang regulasi dan program terukur di berbagai bidang dengan orientasi keummatan”. Husni mengutip pendapat Hasan Hanafi, dari teks ke konteks sehingga semua teori kebaikan dibuat sistem. Sehingga bagaimana lulusan bisa buat pondok. Pengetahuan, filsafat, tasawuf misalnya tdk hanya sekedar menjadi konsumsi pribadi tapi dilembagakan sehingga terwujud pembedayaan. Husni Idrus mencontohkan Quraish Shihab yang sebelum menjadi profesor, prosesnya sudah mulai sejak diidamkan dan didesain ketika masih dalam kandungan. “Jadi kita tidak sekedar nostalgia peradaban Islam masa lalu tanpa menyiapkan dan mewujudkan peradaban masa kini. Terkait upaya mengustadkan pejabat maka perlu program pesantren pejabat. Teori seharusnya bisa dilanjutkan dalam bentuk sistem agar tidak hanya melangit namun tidak membumi. “ ungkapnya.

Hamzah Isa menyatakan pemberdayaan Ummat gagasan yang sudah bagus namun terkadang gagal diaplikasikan seperti halnya koperasi. Menurutnya, kita tidak hanya berfikir konsep ekonomi dan sebagainya namun harus dibentengi spiritualitas sebagai kuncinya. Sholat itu penting tapi lebih penting lagi setelah sholat seperti orang sholat. Inna sholata lizikri (ingat Allah) artinya tidak ada yang menyimpang jika dikelola dengan kepemimpinan yang Islami. Mengutip pendapat Zainuddin MZ, ayam harus pemimpinnya juga ayam tidak bisa buaya begitu seterusnya. Masyarakat yang baik maka pemimpinnya baik. Kaitannya dengan pemberdayaan maka sektor riil perlu diseriusi dgn menciptakan ekonomi yang saling menghidupi dalam suatu komunitas (dakwah komunitas) Kata kuncinya menurut Hamzah Isa adalah: IBS (ikhlas, benar, dan sabar)
Yuriko Kamaru juga menyampaikan gagasannya terkait dengan pemberdayaan itu sebagai konsep yang bagus namun belum menjadi ilmu pengetahuan karena tidak dipraktekkan. Aturan negara harus dipengaruhi oleh nilai-nilai dan petunjuk al-Qur’an namun karena negara belum merdeka dan setelah merdeka pemimpin merumuskan aturan bernegara dengan mengadopsi aturan Islam dan juga dipengaruhi oleh aturan yang sudah ada misalnya KUHP. Pemimpin menurutnya, harus mengutamakan ketaatannya, sebab lahirnya pemimpin zalim karena salah ummatnya sehingga perlu pemberdayaan ummat sebab umat belum mandiri sehingga terpengaruh sogokan dan sebagainya. Menurutnya, kemandirian melalui pemberdayaan sangat penting. Alasannya petani kita msh beli cabe, tomat ke pasar padahal sebagai petani. Padahal butuh waktu berapa lama menanam cabe ketimbang waktu terbuang untuk membicarakan aib orang. Ayat-ayat sudah jelas dan juga konsepnya namun belum dipraktekkan sehingga tidak menjadi pengetahuan dan tidak memberi manfaat (amal jariyah). Dalam konsep politik terkadang menjadikan stress karena kebenaran kalah oleh kesepakatan. Perwakilannya yang jalan tapi Permusyawaratan tidak jalan lagi namun bukan karena konsep Pancasilanya yang salah melainkan karena belum dipraktekkan. Adat bersendi syara dan syara bersendi kitabullah pun dalam penilaian Yuriko belum menjadi kenyataan karena belum bisa dijamin ada satu desa bahkan dusun yang sudah terbebas semua warganya dari buta huruf al-Qur’an.
Dr. Zulzain Ilahude mengulas dengan mengawali pandangannya bahwa konsep pemberdayaan ummat yaitu menjadikan ustad jadi pemimpin atau menjadikan pemimpin jadi ustad. Jika dicermati tampaknya kata yang disebut terakhir merupakan konsep yang tercepat dibandingkan dengan yang disebut diawal. Gorontalo sebagai serambi Madinah perlu dibuat aturan bernuansa Islami agar tidak hanya menjadi serambi Manado.
Sedangkan Tengku Ismail Datu dalam ceramahnya mengkaji Quran Surat Ali ‘Imran Ayat 31: Qul ing kuntum tuhibbunallah fattabiuni yuhbibkumullahu…Terjemah Arti: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, pastilah Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu… Ayat ini menurutnya khusus tapi maknanya umum. Kenapa pemberdayaan sulit, maka merujuk ayat jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, berarti modalnya adalah cinta kepada Allah, sehingga bisa mencintai masyarakat, ummat, lingkungan dan potensi yang Allah berikan sehingga tidak hanya cinta pada diri sendiri. Cinta itu adalah nur Allah yang ada di hatinya sehingga kita diperintahkan untuk berzikir, bukan hanya takwa dan jihad karena zikir itu adalah nur yang ada pd dada yang menumbuhkan kepedulian dan sebagainya karena itu adalah substansi yang dilakukan sehingga tidak mementingkan diri. Menurutnya: “Pertama, timbulkan cinta kepada semua karena terlihat itu sebagai perintah Allah. Bertolong-tolongan dalam kebaikan itulah yang memunculkan pemberdayaan dari berbagai bidang. Kita kepada dunia butuh cinta apalagi kepada agama (Allah dan Rasul) akan tetapi mendapatkan cinta itu butuh proses. Kedua, melalui jalan syariat yang diyakini diwujudkan agar tercipta kasih sayang dan kepedulian bahkan bisa meraih Ihsan maka wajib bertauhid tasawuf karena itu dasar keyakinan kita yang menjadikan Allah sebagai tujuan. Jadi perlu latih berzikir krn zikir itu maqam cinta”, ungkapnya.