Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) melaksanakan kegiatan Studium General dalam rangka Pembukaan Perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026–2027 dengan tema “ “Tradisi Islam-Hadhrami dan Otoritas Habaib dalam Pengembangan Pesantren di Indonesia””. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari selasa, tanggal 1 September 2026, pukul 09.00 WITA,  di Ruang Aula Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Kegiatan Studium General ini dihadiri oleh Wakil Rektor  I UIN Sultan Amai Gorontalo, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU), para Ketua dan Sekretaris Jurusan, JFT/JFU/Operator FITK, dosen, serta mahasiswa di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Acara diawali dengan sambutan Dekan FITK, Prof. Dr. H. Arten Mobonggi, M.Pd, menyampaikan sambutan sekaligus memberikan arahan kepada seluruh sivitas akademika dalam menghadapi Tahun Akademik 2026/2027. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Wakil Rektor I, Dr. Herson Anwar, M.Pd, yang sekaligus secara resmi membuka kegiatan Studium General dan perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2026–2027. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kuliah umum ini dirancang untuk menyegarkan kembali nalar kritis dan memperluas horizon pengetahuan sebelum mendalami disilin ilmu di ruang kelas. Setiap Mahasiswa diharapkan untuk memiliki persiapan menyerap inspirasi baru dan memulai perjalanan akademik ini dengan semangat keunggulan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kuliah umum yang disampaikan oleh narasumber dari Prodi Pendidikan agama Islam Dr. Ahmad Zaenuri, M.Pd.I., dengan moderator Abdul Kadir Ismail, M.Hum. Dalam pemaparannya, Zaenuri menyampaikan bahwa konsep pendidikan Islam yang digagas kelompok Islam Ḥaḍramī Jauh mendahului yang dikembangkan Muhammadiyah. Jamiat Kheir berdiri sebagai organisasi yang independen pada tahun 1905 M, sementara Muhammadiyah berdiri kemudian pada tahun 1912 M.Lebih lanjut Zaenuri menyampaikan, Sekolah-sekolah Jamiat Kheir, dikembangankan oleh orang-orang Arab kaya, yang sebagiannya adalah kalangan Ḥaḍramī (mereka yang berasal dari Hadhramaut, Yaman bagian selatan). Kelompok inilah yang memiliki peran penting dalam membentuk jaringan pendidikan Islam – Ḥaḍramī di Indonesia.

Di Sulawesi, khususnya Gorontalo dan Palu (Sulawesi Tengah), dua wilayah tersebut memiliki kedekatan dengan komunitas Arab Ḥaḍramī. Sekolah dan Pesantren Alkhairaat salah satu buktinya. Jaringan pendidikan ini merupakan yang paling besar di Sulawesi. Alkhairaat mewarnai sistem sosial, budaya dan politik di dua wilayah ini. Gorontalo pernah memiliki Gubernur seorang keturunan Arab bernama Fadel, ayahnya bernama Muhammad Al-Haddār, sebuah marga (family name) yang tercatat sebagai kalangan Ḥabāib di Rābithah ’Alawiyah. Ia juga sempat tercatat sebagai salah satu pimpinan besar Alkhairaat.Sementara di Palu, Sulawesi Tengah, pendiri Alkhairaat, Sayyid Idrūs bin Sālim Al-Jufrī adalah tokoh penting yang namanya diabadikan menjadi identitas Bandara International. Beberapa dzuriiyah (keturunan) Sayyid Idrūs juga memiliki peran penting di bidang sosial dan politik paparnya.

Studium General ini juga menandai dimulainya perkuliahan semester ganjil, tahun akademik 2026/2027.